Langsung ke konten utama

masuknya kultur Jepang keranah Tulungagung - By : Maliki Rozak



Masuknya Kultur Jepang keranah Tulungagung

Tulungagung, siapa sih yang tidak kenal dengan kota ini. Kota yang tidak terlalu besar namun dengan kenyentrik annya mampu melesat ke perkembangan yang tinggi. Layaknya kota-kota maju yang lain yang menyerap unsur-unsur globalisasi untuk perkembangan, Tulungagung juga menyerap beberapa budaya dari internasional. Salah satunya adalah budaya jepang. Melalui beberapa kultur jepang seperti art’s, music, fashion, style, dan lain-lain Tulungagung mampu bersaing dengan kota-kota besar lain dalam segi perkembangan globalisasi. Sehubungan dengan masuknya kultur Jepang keranah Tulungagung maka ada beberapa komunitas-komunitas pemuda (walaupun ada sebagian anggotanya bukan merupakan pemuda lagi) yang bergerak dalam pelestarian atau memperkenalkan budaya Jepang ini kemasyarakat umum.
Salah satunya adalah Tulungagung Anime Community (TAC). Komunitas ini sudah cukup lama dibentuk dan bergerak dalam bidang “Penggemar kartun Jepang”. Namun seiring dengan berjalannya waktu komunitas ini juga memperkenalkan kultur lain seperti : kerajinan tangan khas jepang, makanan, lagu, tradisi, dll. Komunitas ini juga pernah membuat event yang cukup besar tentang salah satu kultur Jepang yaitu “Cosplay”. Event itu mampu menarik penggemar-penggemar anime dari kota-kota lain sampai yang dari Surabaya, Malang datang keTulungagung. Hal ini merupakan tanda kesuksesan bahwa masuknya pengaruh globalisasi dari luar bisa berpengaruh positif untuk masyarakat.

Hal-hal yang dilakukan komunitas ini antara lain yaitu gathering mingguan /pun khusus (pada acara tertentu). Ini merupakan sebuah batu loncatan bagi para pemuda untuk menyalurkan hobinya dan bersilaturahmi. Adapun yang lain adalah “Project Cosplay” oleh para cosplayer, yang biasanya dilakukan dengan photoshoot cosplay di daerah tertentu secara berkelompok. Di bidang keagamaan juga tidak kalah penting, komunitas ini setiap puasa selalu membagikan ta’jil untuk para pengendara di jalan.

Namun sebagus apapun kayu pasti akan termakan oleh rayap juga. Begitu pula dengan komunitas ini, walaupun terdapat banyak sekali hal-hal positif yang telah diperoleh.Tidak sedikit juga hal-hal yang menjadi kekurangan dalam komunitas ini. Contohnya ada pada anggota itu sendiri. Rata-rata anggota adalah remaja yang menginjak dewasa, adapun juga yang masih pubertas. Nah, untuk anggota yang terlalu overdosis kekultur jepang sampai-sampai menyisipkan bahasa jepang kebahasa sehari-hari nya bahkan untuk komunikasi dengan orang lain, sehingga orang lain pun bingung ketika berinteraksi dengannya. Berkiblat penuh pada budaya jepang yang dikenal frontal sampai mengabaikan budaya daerahnya sendiri. Menjadi pemuda yang pasif yang kesehariannya tidak keluar rumah dan hanya memilih menggeluti hobinya saja (NEET.). Adapun yang paling parah adalah bertingkah edgy dan seenaknya di tempat umum, entah itu di event jejepangan ataupun yang lain. Walaupun berkelompok dan berkiblat pada jepang setidaknya janganlah tinggalkan norma kesopanan pada budaya kita sendiri yang telah melekat dari lahir.
 
Untuk saran, jadikanlah kultur jepang ini sebagai pendongkrak mutu daerah kita. Dan jangan jadikan kultur itu menggantikan kultur kita, gabungkanlah jika itu memang mampu, tapi jangan sampai merusak keaslian kultur asli kita. Kalian bisa mempromosikan tempat-tempat wisata / objek wisata di tulungagung dengan kalian “photoshoot cosplay project” pada suatu spot dan kalian memberi caption tentang daerah itu (promosi). Setidaknya sambil menyelam minum air. Kalian juga bisa membuat Original Character (OC) untuk mewakili maskot Tulungagung. Dengan membubuhkan unsur “moe” maka saya yakin OC tersebut bisa diterima oleh masyarakat.Penggunaan batik pun juga dapat dikreasikan, apalagi jika digabung dengan kimono dari jepang.Sampai saat ini saya belum menemukan dengan mata kepala sendiri penggabungan culture dari segi fashion tersebut di rancah percosplay an. Sekian jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Jika tulisan diatas tidak akurat mohon dimaklumi karena ini hanyalah opini penulis.


Foto diambil tahun 2016 saat gathering (sabtu malam minggu).


Foto diambi ltahun 2017 saat acara gathering buka puasa bersama, yang diikuti oleh seluruh komunitas Jejepangan se-Tulungagung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMOGA MENGINSPIRASI

Komunitas sineas muda tulungagung merupakan wadah baru untuk para pemuda (khususnya) Tulungagung untuk berkarya dibidang media perfilman dan kegiatan sosial literasi media kepelosok desa. Dengan diharapkan wadah baru tersebut dapat menjadikan pemuda (khususnya Tulungagung) menjadi pemuda yang aktif, kreatif, inovatif, terhindar dari kegiatan yang negatif, dan dapat membuat bangga kota Tulungagung melalui karya – karya kawula mudanya, serta pengetahuan yang mereka miliki bermanfaat untuk masyarakat sekitar dengan kegiatan pengabdian masyarakat, sosial literasi media kepelosok desa.


Program kerja komunitas ini selain memproduksi film atau karya videografi juga melakukan sosialisasi literasi media kedaerah-daerah pelosok di Kabupaten Tulungagung dan bioskop keliling(layar tancap) gratis dalam waktu satu tahun sekali. Di bulan Desember 2017 lalu, komunitas sineas muda Tulungagung ini telah melakukan kegiatan literasi buku “Taman Baca dan Oase Berkreatifitas Anak” di Desa Panggungkalak, …

SAHABAT JADI CINTA - Karya AGNES MUTIA SARI

Bunga dan Raja. Teman satu kampus yang memiliki karakter yang berbeda beda. Awalnya tak kenal kemudian seiring berjalannya waktu mereka jadi tahu satu sama lain. Yang membuat mereka jadi saling kenal adalah teman teman mereka satu sama lain. Raja adalah seorang yang famous ( terkenal) karena dia memiliki wajah yang tampan dan berwibawa. Sedangkan Bunga adalah mahasiswa biasa yang pendiam dan tidak famous alias biasa aja...

Tak sengaja bertemu di perpustakaan. Kesan pertama melihat bunga, Raja sangat terkesan. Raja pun mencari tahu tentang Bunga. Akhirnya Raja mendapat informasi dari teman2nya. Mereka akhirnya saling berkomunikasi. Mereka pun akhirnya berteman. Dan kemana mana bersama. Akhirnya mereka merasa nyaman. Timbulah rasa suka satu sama lain. Yaitu rasa Cinta. Banyak yang menganggap mereka menjalin hubungan. Naamun kenyataannya tidak. Mereka pun merasa aneh kenapa orang2 begitu sangat kepo dengan hubungan mereka.

Suatu hari Bunga merasa tidak nyaman dengan hubungan ini. Karen…